Niat Beramal Untuk Mendapatkan Rezeki Bolehkah?

artikel-beramal-tanpa-batas-360-l

LURUSKAN NIAT

  • Niat secara bahasa berarti hati. Amalan-amalan yang dilakukan itu harus ada niatnya, yang menjadi pembeda antara amalan yang satu dengan amalan lainnya dan sebagai pembeda antara ibadah yang wajib maupun sunat.
  • Segala sesuatu yang kita kerjakan termasuk amal ibadah kepada Allah tergantung pada niatnya. Itu sebabnya dalam setiap tindakan kita diharuskan untuk meluruskan niat. Meluruskan niat artinya membetulkan niat karena Allah Ta’ala, bukan karena yang lain. Bahkan jika hal yang kita lakukan itu hanya merupakan kebiasaan saja, seperti makan, minum, tidur, aktivitas toilet, tapi jika pelakunya meniatkan hal-hal tersebut sebagai penguat dirinya untuk taat kepada Allah, maka ia akan diganjar pahala oleh Allah.
  • Lihatlah hadits yang diriwayatkan oleh BUkhari Muslim di bawah ini :
    • Hadits ini menegaskan bahwa seseorang tidak memperoleh sesuatupun dari amal dan perbuatannya melainkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Jika ia berniat kebaikan maka ia akan beroleh kebaikan. Jika niatnya buruk maka tidak ada yang diperolehnya kecuali keburukan juga. Jadi baik buruknya perbuatan seseorang tergantung pada niatnya. Jadi kalau niat sedekah untuk rezeki saja, maka rezeki itulah yang diperoleh.
    • Bahkan Rasulullah mengingatkan para dai dan pemuka agama yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban & Thabrani, bahwa, Allah menguatkan agama ini dengan dai yang kiprah dakwahnya luar biasa tapi sesungguhnya ia tak dapat apa-apa karena niatnya melenceng.
    • Seorang pemuka agama yang menyampaikan syiar agama pun harus meluruskan niatnya mengajarkan ilmu agama hanya karena Allah, bukan untuk mendapatkan gelar alim ataupun mencari popularitas.

      3 Tahapan Niat

      • Menurut seorang ahli tafsir, cendekiawan, dan ahli fikih yang hidup pada abad ke 13 bernama Ibnul Qayyim, tahapan niat itu ada 3 fase :
      # 1. Qablal amal (sebelum amal)
      • Sebelum melakukan amal saleh, apakah niatnya sudah benar? Jika sudah silahkan dilanjutkan. Karena apapun yang diniatkan maka itulah yang didapatkan.
      # 2. Astnaa al amal (saat beramal)
      • Saat melakukan amal saleh, apakah niatnya sudah betul? Jika berniat hanya untuk dunia, maka dunia itulah yang didapatkan.
      # 3. Badal amal ( setelah amal)
      • Setelah selesai melakukan amal saleh apakah niatnya masih benar? Atau sudah tercampur dengan kepentingan duniawi?

Komentari Artikel Ini:

Terpopuler :

Terbaru :

Backto Top